MEDAN — Memperingati 25 tahun perjalanan Partai Demokrat, Forum Soliditas Demokrat Sumatera Utara Berjaya (FSDSUB) akan menggelar Dialog Publik 25 Tahun Partai Demokrat dengan tema “Peluang dan Tantangan Mengembalikan Kejayaan Partai di Sumatera Utara”.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung Minggu, 4 Oktober 2026, di Venus Saturnus Lt.2 Grand Antares Hotel, Medan, tersebut menghadirkan sejumlah tokoh Demokrat dan narasumber dari berbagai latar belakang.
Dalam agenda tersebut, Tony Chandra tercatat sebagai koordinator kegiatan. Sementara Armyn Simatupang menjadi penasihat dan Sabam Sinaga sebagai pembina FSDSUB.

Tony Chandra memandang dialog publik ini bukan sekadar kegiatan seremonial memperingati perjalanan 25 tahun Partai Demokrat. Forum tersebut menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan politik Demokrat, khususnya di Sumatera Utara, sekaligus mendiskusikan tantangan yang dihadapi partai dalam membangun kembali kepercayaan dan soliditas organisasi.

Tema mengenai peluang dan tantangan mengembalikan kejayaan Demokrat di Sumatera Utara menjadi relevan karena partai politik tidak hanya membutuhkan struktur organisasi, tetapi juga kemampuan membaca perubahan aspirasi masyarakat.

Menurut pandangan Tony Chandra, konsolidasi, komunikasi dan keterbukaan terhadap berbagai kelompok menjadi bagian penting dalam membangun kembali kekuatan politik di daerah. Dialog publik diharapkan tidak berhenti pada nostalgia terhadap masa lalu, tetapi menghasilkan gagasan mengenai langkah ke depan.

Forum ini juga menghadirkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Ketua Umum DPP Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat sebagaimana tercantum dalam materi publikasi kegiatan.

Selain itu, sejumlah narasumber dijadwalkan menyampaikan pandangan, antara lain akademisi Shobihul Anshor Siregar, Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Burhanuddin Sitepu SH, tokoh masyarakat Melayu/Sekjen Mabin Syarifuddin Siba, pengurus Al Jamiyatul Washliyah T. Aswad, serta anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI Sabam Sinaga.

Panitia: Bukan Sekadar Seremonial
Sementara itu, Mikhael Siregar, ST, dari unsur panitia, menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang dialog yang terbuka mengenai perjalanan dan masa depan Demokrat di Sumatera Utara.

Menurut panitia, keberadaan berbagai narasumber dalam forum tersebut diharapkan mampu menghadirkan perspektif yang beragam. Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjalanan Partai Demokrat selama 25 tahun, tetapi juga menyentuh persoalan konsolidasi, hubungan dengan masyarakat, regenerasi kader serta tantangan politik yang akan dihadapi ke depan.

Mikhael dapat menekankan bahwa dialog publik harus memberikan ruang bagi gagasan, kritik dan evaluasi secara konstruktif, sehingga momentum 25 tahun Demokrat dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk melihat apa yang telah dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Hal ini sejalan dengan dinamika internal Demokrat Sumatera Utara yang dalam beberapa bulan terakhir memang menjadi perhatian publik. Sejumlah pemberitaan mencatat adanya pembahasan mengenai konsolidasi dan arah kepemimpinan Demokrat Sumut menjelang agenda Musda.

25 Tahun Demokrat, Apa Berikutnya?
Dua setengah dekade perjalanan Partai Demokrat tentu menyimpan catatan panjang, baik mengenai capaian politik maupun tantangan organisasi. Di tingkat Sumatera Utara, pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya bagaimana mengingat kejayaan masa lalu, tetapi bagaimana menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi energi untuk menghadapi kebutuhan politik masyarakat hari ini.

Dari perspektif Tony Chandra, dialog semacam ini dapat menjadi titik awal untuk memperkuat kembali komunikasi antarkader dan membuka ruang partisipasi yang lebih luas.
Sementara dari sisi panitia, Mikhael Siregar menilai keberhasilan sebuah forum bukan semata-mata diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari gagasan yang lahir dan sejauh mana gagasan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi serta pembenahan organisasi.

Dengan demikian, “25 Tahun Partai Demokrat” bukan hanya angka usia, tetapi momentum untuk bertanya: ke mana Demokrat Sumatera Utara akan melangkah setelah ini?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu tidak cukup lahir dari satu tokoh atau satu kelompok. Ia membutuhkan dialog, keterbukaan dan kesediaan seluruh elemen untuk mendengarkan berbagai pandangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *