Mediasurya -Medan – Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kawasan trotoar sekitar Universitas Sumatera Utara mengaku resah dengan kondisi usaha mereka yang semakin sulit berkembang. Minimnya modal menjadi kendala utama yang membuat mereka bertahan dalam keterbatasan, tanpa kepastian peningkatan ekonomi.
Setiap hari, para pedagang ini mengandalkan penjualan sederhana seperti makanan ringan, minuman, hingga kebutuhan harian mahasiswa. Meski lokasi mereka cukup strategis karena berada di sekitar kampus, tidak sedikit dari mereka yang mengaku pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau ada modal lebih, kami ingin menambah variasi dagangan atau memperbaiki gerobak. Tapi sekarang untuk bertahan saja sudah sulit,” ujar salah satu pedagang yang telah berjualan lebih dari lima tahun di kawasan tersebut.
Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya harga bahan baku serta daya beli yang tidak menentu. Beberapa pedagang bahkan mengaku harus berutang untuk mempertahankan usaha mereka tetap berjalan.
Selain persoalan modal, para PKL juga menghadapi ketidakpastian terkait penertiban dan penataan kawasan trotoar. Mereka berharap adanya solusi dari pemerintah maupun pihak terkait, tidak hanya dalam bentuk penataan, tetapi juga dukungan nyata seperti akses permodalan dan pembinaan usaha kecil.
Pengamat ekonomi lokal menilai bahwa sektor informal seperti PKL memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi masyarakat kecil. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang berpihak, termasuk program kredit mikro dengan bunga rendah dan pelatihan kewirausahaan.
Para pedagang berharap ada perhatian lebih serius agar mereka tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
