Sibolga,mediasurya.id – Tradisi Batak Dalihan Na Tolu kembali hidup di tengah duka bencana alam yang melanda Sumatera Utara. Di wilayah Tapanuli Utara, Sibolga, dan Tapanuli Tengah, kesedihan masih menyelimuti warga yang kehilangan harta benda, bahkan anggota keluarga. Di tengah situasi itu, budaya Batak hadir sebagai pelukan yang menguatkan.
Tradisi Batak Dalihan Na Tolu menjadi pegangan Pengurus Punguan Toga Aritonang se-Indonesia saat mendatangi keluarga besar Aritonang yang terdampak bencana di Sibolga – Tapteng Rabu – Kamis (7-8 Januari 2026). Dalihan Na Tolu, yang bermakna tungku berkaki tiga, mengajarkan nilai saling menghormati dalam keluarga melalui prinsip Somba Marhula-hula, Elek Marboru, dan Manat Mardongan Tubu.
Tradisi Batak ini bukan sekadar adat, tetapi kewajiban turun-temurun dari leluhur. Nilai ini dijalankan sebagai bentuk empati mendalam terhadap penderitaan korban. Banyak warga kehilangan rumah, harta, dan orang tercinta. Bahkan hingga kini, masih ada jenazah korban yang belum ditemukan.
Ketua DPD Toga Aritonang Sumut Ir. Kompi Aritonang, Ketua DPC Punguan Toga Aritonang Kabupaten Tapanuli Utara, Ketua DPC TA Pematangsiantar, Ketua DPC TA Kabupaten Asahan bersama pengurus lainnya, datang langsung ke lokasi bencana. Mereka menemui keluarga pomparan atau keturunan Aritonang yang terdampak, menyapa satu per satu dengan penuh hormat dan kepedulian.
Hal ini atas kesepakatan pengurus DPP Punguan Toga Aritonang (TA) se-Indonesia Johanes Kennedy Aritonang sebagai Ketua Umum dan jajaran, Ir Kompi Aritonang Ketua DPD TA Sumut, Luhut Aritonang Ketua DPC TA Kabupaten Tapanuli Utara, Anggiat Rajagukguk, Binhot Aritonang, Jupati Rajagukguk, Nasib Simaremare dan seluruh pengurus lainnya.
Bantuan nyata diserahkan kepada setiap keluarga. Bantuan tersebut berupa beras, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya. Namun sebelum bantuan diberikan, pengurus menyampaikan sepatah kata penghiburan, menegaskan bahwa duka yang dirasakan korban juga dirasakan oleh seluruh keluarga besar Aritonang.
Tradisi Batak Boras Sipir Ni Tondi menjadi momen paling mengharukan. Beras ditaburkan di atas kepala korban sebagai simbol pemberkatan untuk menguatkan jiwa atau tondi. Ritual ini diyakini memberi kekuatan batin agar korban mampu menghadapi cobaan berat.
Makna budaya berlanjut dengan penyupanan pisang. Pisang melambangkan kekuatan hidup, kesinambungan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Juga Itak Gurgur (Makanan dari Tepung Beras) sebagai simbol penyemangat yang membara (Gurgur).
Setelah itu, diberikan air putih atau Aek Sitio-Tio sebagai simbol pemulihan, ketenangan jiwa, dan kemurnian hati yang terguncang akibat bencana.
Rangkaian adat ditutup dengan doa bersama. Doa dipanjatkan agar para korban diberi ketabahan, kesehatan, dan kekuatan untuk bangkit kembali dari musibah yang menimpa.
Luhut Aritonang menegaskan bahwa ritual ini bersifat sakral dan telah dilakukan oleh orang tua terdahulu, terutama kepada keluarga yang tertimpa musibah. Ia menyampaikan bahwa keluarga besar Aritonang berasal dari satu leluhur, Toga Aritonang, dengan tiga garis keturunan: Ompusunggu, Rajagukguk, dan Tuan Simare.
Ikatan darah leluhur itulah yang mempersatukan hati seluruh pomparan Aritonang. Kehadiran pengurus Punguan Toga Aritonang se-Indonesia menjadi bukti bahwa duka korban adalah duka bersama. Mereka ingin memastikan para korban tidak merasa sendiri.
Harapan sederhana disampaikan di akhir kunjungan. Luhut berharap kehadiran dan bantuan yang diberikan dapat meringankan beban keluarga korban bencana alam, sekaligus menjadi penguat jiwa di tengah kehilangan yang mendalam.
Hal senada disampaikan Ir. Kompi Aritonang, kami atas nama pengurus DPP, DPD dan DPC bahkan seluruh Pomparan (Keturunan) Toga Aritonang seantero dunia ini, turut merasakan penderitaan yang di alami oleh saudara kami semua, semoga dengan kehadiran kami ini menjadi penyemangat untuk bangkit kembali dari penderitaan akibat bencana yang kita hadapi, ucapnya.
Adapun yang dikunjungi pengurus Toga Aritonang yaitu daerah Kota Sibolga ada dua titik, Kabupaten Tapanuli Tengah antara lain Kolang, Barus, Pinang Sori, Tukka, Badiri, Tapian Nauli, Sorkam, Pandan, Sarudik, Sitahuis dengan total kurang lebih 488 KK.
Turut hadir dalam pemberian bantuan tersebut, Pengurus DPC Toga Aritonang Kota Pematangsiantar Ramlan Aritonang sebagai Ketua, Petrus Aritonang Wakil Ketua, Pesman Aritonang Penasehat, Audi Ambarita Kabid, serta Pengurus DPC Toga Aritonang Kabupaten Asahan Ronald Aritonang sebagai Ketua, Fetbon Aritonang Sekretaris, Sugianto Simaremare Kabid, dan Halasan Rajagukguk Kabid.
Tim/red

