Tapanuli Utara,mediasurya.id — Duka bencana Sumatera menyisakan luka mendalam. Rumah rusak, harta hilang, dan rasa aman runtuh seketika. Tidak hanya mereka yang terdampak langsung, duka ini juga dirasakan oleh banyak pihak yang turut berempati dan bergerak memberi bantuan.

Di tengah suasana pilu itu, Perkumpulan Punguan Toga Aritonang se-Indonesia (PPTA) hadir membawa bantuan dan penghiburan. Aksi kemanusiaan ini difokuskan bagi keluarga besar Toga Aritonang di Kabupaten Tapanuli Utara yang terdampak bencana pada akhir Desember lalu.

Ketua Umum PPTA, Johanes Kennedy Aritonang, bersama istri, didampingi Richard Rajagukguk, Nelly Rajagukguk, serta jajaran pengurus DPC Toga Aritonang Kabupaten Tapanuli Utara. Hadir pula Luhut Aritonang selaku Ketua DPC, bersama Anggiat Rajagukguk, Marni Siregar, Jupati Rajagukguk, Christian Rajagukguk, dan pengurus lainnya.

Sebelum bantuan diserahkan, Johanes Kennedy Aritonang menyampaikan kata penghiburan. Ia menegaskan bahwa duka yang dialami keluarga besar Toga Aritonang adalah duka bersama. Seluruh keluarga besar ikut bersedih atas musibah ini.

Ia mengajak para korban untuk tetap kuat dan bangkit. Menurutnya, cobaan tidak akan diberikan Tuhan di luar kemampuan umat-Nya. Musibah ini menjadi pengingat untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga lingkungan agar bencana serupa tidak terulang.

Suasana menjadi sangat haru ketika rangkaian adat Batak dijalankan. Boras Sipir Ni Tondi ditaburkan di atas kepala korban. Ritual ini menjadi simbol pemberkatan untuk menguatkan jiwa atau tondi, agar para korban memiliki kekuatan batin menghadapi cobaan berat.

Makna budaya berlanjut dengan pemberian pisang. Pisang melambangkan kekuatan hidup, kesinambungan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Harapan itu diteguhkan dengan Itak Gurgur, makanan dari tepung beras yang melambangkan semangat yang membara.

Selanjutnya diberikan Aek Sitio-Tio, air putih yang menjadi simbol pemulihan, ketenangan jiwa, dan kemurnian hati setelah guncangan bencana. Air itu seolah menjadi jeda sejuk di tengah kesedihan panjang.

Rangkaian adat ditutup dengan doa bersama. Doa dipanjatkan agar para korban diberi ketabahan, kesehatan, serta kekuatan untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka.

Adapun wilayah yang dikunjungi pengurus pusat PPTA di Kabupaten Tapanuli Utara meliputi Kecamatan Adian Koting, Kecamatan Simangumban, Kecamatan Purbatua, Kecamatan Pahae Jae , dan Kecamatan Parmonangan. Total kurang lebih 200 kepala keluarga Toga Aritonang yang terdampak bencana.

Ketua DPC Toga Aritonang Kabupaten Tapanuli Utara, Luhut Aritonang, menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan mungkin tidak besar. Namun kehadiran langsung untuk menjumpai keluarga yang tertimpa musibah dan menjalankan tradisi Batak diyakini sangat berarti.

Ia berharap kebersamaan dan kepedulian ini menjadi kekuatan baru bagi keluarga besar Toga Aritonang untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana. Dalam duka, mereka tidak sendiri.

Raimon Nainggolan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *