MEDAN — Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Sumatera Utara (Sumut) mulai menghangat. Persaingan kursi Ketua DPD Demokrat Sumut periode 2026–2031 disebut kini mengerucut pada dua nama, yakni petahana Lokot Nasution dan anggota DPR RI Sabam Sinaga.
Nama Sabam Sinaga bahkan disebut-sebut mendapat dukungan signifikan dari sejumlah DPC Partai Demokrat di Sumut. Informasi yang beredar, dukungan terhadap Sabam telah melampaui ambang 1/2 N + 1, sehingga menempatkannya dalam posisi kuat untuk memimpin Demokrat Sumut.
Namun, dukungan mayoritas DPC tersebut hingga kini belum diumumkan secara terbuka.
Di sisi lain, Lokot Nasution yang saat ini masih menjabat Ketua DPD Demokrat Sumut sekaligus anggota DPR RI juga terus melakukan konsolidasi ke sejumlah daerah. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat dukungan untuk kembali memimpin Demokrat Sumut untuk periode kedua.
Kondisi ini mendapat sorotan dari salah satu kader vokal Demokrat Sumut, Mikhael Siregar ST, yang juga merupakan mantan Kepala BPOKK DPC Partai Demokrat Medan.
Mikhael membenarkan bahwa kontestasi Musda kini mengerucut pada dua figur. Menurutnya, terdapat aspirasi yang cukup kuat di internal Demokrat Sumut agar terjadi perubahan kepemimpinan.
“Aspirasi itu menginginkan agar ketua DPD sosok yang dekat dengan semua pengurus dan peduli kepada kader. Mudah diajak komunikasi, terbuka dan membangun kebersamaan. Figur yang bersih dari kasus hukum dan sosok itu ada pada Sabam Sinaga,” ujar Mikhael, Rabu (19/8/2026).
Mikhael menilai, persoalan komunikasi dan konsolidasi internal menjadi salah satu alasan munculnya dorongan perubahan tersebut.
Ia menyinggung kondisi DPD Demokrat Sumut dalam lima tahun terakhir yang menurutnya mengalami kevakuman. Bahkan, kata dia, komunikasi antarpengurus dinilai tidak berjalan maksimal dan rapat pengurus lengkap disebut nyaris tidak pernah digelar.
“Bahkan sesama pengurus ada yang saling tidak kenal. Ini tentu menjadi catatan yang harus dibenahi ke depan,” katanya.
Singgung Perkara Hukum, Minta Lokot Legawa
Mikhael juga menyinggung perkara korupsi yang mengaitkan nama Lokot Nasution dalam persidangan. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi menimbulkan spekulasi dan menjadi pertimbangan tersendiri bagi partai.
Karena itu, ia menyarankan Lokot Nasution mengambil langkah yang dinilainya lebih elegan dengan tidak kembali mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Demokrat Sumut.
“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, saya berharap Ketua Lokot tidak mencalonkan lagi sebagai bentuk kecintaannya terhadap partai,” tegasnya.
Menurut Mikhael, sikap legawa tersebut justru dapat menjadi pilihan terbaik demi menjaga soliditas internal Partai Demokrat Sumut di tengah menguatnya aspirasi perubahan.
“Untuk kebaikan bersama, terutama bagi Partai Demokrat, sebaiknya Ketua Lokot tidak perlu memaksakan diri lagi untuk menjadi Ketua DPD periode 2026–2031,” ucapnya.
Ia menilai, apabila dukungan terhadap Sabam Sinaga benar-benar telah menguat di tingkat DPC, maka dinamika Musda mendatang akan menjadi momentum penting bagi Demokrat Sumut untuk menentukan arah kepemimpinan baru.
Musda Demokrat Sumut diperkirakan menjadi pertarungan politik internal yang menarik, terutama jika pertarungan dua figur tersebut benar-benar terealisasi.
