Mediasurya.i – Medan,Keadaan sekarang ini, dalam menghadapai Fenomena Ceramah Jusuf Kalla yang membuat kegaduhan dan menodai ajaran Yesus Kristus, Ada satu gambaran yang sangat keras dan menyakitkan dalam Alkitab, tepatnya di kitab Yesaya 56:10-11, yang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi sebagian pemimpin rohani zaman sekarang:
“Pengawal-pengawal mereka semuanya buta, semuanya tidak mengerti; mereka semua adalah anjing yang bisu, yang tidak mampu menyalak; mereka pemalas, berbaring saja, suka mengantuk. Ya, anjing-anjing itu sangat rakus, tidak pernah merasa kenyang. Demikianlah pemimpin-pemimpin itu, mereka tidak mengerti, mereka semua berjalan di jalan yang gelap.”

Anjing yang Tidak Berani Menyalak

Seharusnya, seorang gembala atau pendeta itu seperti anjing penjaga yang berani menyalak keras ketika ada bahaya, ketika ada kejahatan, atau ketika kebenaran sedang diinjak-injak. Tapi lihatlah mereka sekarang! Mereka adalah anjing yang bisu.

Mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mereka tahu ada penyimpangan, ada ketidakadilan, ada kebohongan. Tapi mulut mereka dikunci rapat. Mereka tidak mau berkata jujur, tidak mau menegur kebenaran, karena takut kehilangan jabatan, takut kehilangan uang, atau takut tersinggung oleh orang kuat. Mereka tidak mau lagi ambil pusing saat ajaran Tuhan Yesus ternoda seperti yang terjadi sekarang ini akibat ceramah Jusuf Kalla.

Mereka lebih memilih diam, memutarbalikkan fakta, dan berdusta di depan jemaat. Kejujuran sudah mereka jual demi kenyamanan diri sendiri. Mereka adalah penjaga yang gagal total, pemimpin yang hanya ada bentuknya saja, tapi kosong isi dan keberaniannya.

Budaya Menjilat yang Menjijikkan

Selain bisu, mereka juga memelihara budaya penjilat. Di hadapan mereka, yang dihargai bukan orang yang benar, tapi orang yang pandai mengampu, memuji berlebihan, dan memberi materi.

Orang yang jujur dan berani bicara fakta dianggap musuh. Tapi mereka yang lidahnya manis, yang bisa “menggaruk kepala” yang gatal, justru diangkat menjadi orang kepercayaan, diberi posisi, dan diperlakukan istimewa. Ini bukan pelayanan Tuhan, ini adalah perdagangan dan politik kotor. Gereja dijadikan pasar di mana integritas bisa dibeli dan dijual.

Mereka Telah Menjadi Keaiban

Sesuai tulisan Yesaya, mereka adalah anjing yang rakus, yang hanya memikirkan perut dan kepentingan sendiri, tidak pernah peduli dengan domba yang bingung dan terluka.

Mereka berdiri di mimbar seolah-olah suci, tapi hati mereka penuh dengan kepura-puraan. Mereka tidak berani menyalak kebenaran karena suara mereka sudah dibeli oleh dunia dan ambisi pribadi.

Teguran Terakhir:

Jika kamu masih merasa layak disebut hamba Tuhan, berhentilah berbohong dan berhentilah bermain politik penjilat! Jika kamu tetap bisu saat kejahatan terjadi, dan hanya mau bicara apa yang enak didengar, maka kamu bukan gembala, kamu hanyalah anjing yang tidak berguna yang dikutuk oleh Firman itu sendiri.

Sebaiknya anda pakai Rok dan Masker agar tidak kelihatan wajah aslimu lagi dan turunlah dari mimbar jika hatimu sudah mati terhadap kebenaran!

Ajaran Yesus yang sakral sedang ternoda tapi kamu diam saja? Tidak apa-apa, apakah pengampunan berarti pembiaran? Kalo begitu bagaimana perspektif anda semua Hai para pemimpin yang sok suci tentang hukum negara? Bagaimana bila Teroris datang meneror gerejamu? Apakah kamu cukup doakan dan ampuni?

Mengampuni ADALAH KEHARUSAN tapi hukum negara itu kita harus patuhi. Jadi jangan menjadi penjilat lagi bertobatlah!

Oleh : Bishop Dikson Panjaitan, STh.,M.Div

Ketua Sinode Gereja Laskar Kristus Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *