( Batam- Media Surya.id )
dikenal tidak hanya aktif di dunia akademik tetapi juga memiliki kedekatan dalam percakapan santai seputar budaya dan kuliner khas Nusantara. Keduanya berasal dari marga besar Batak—Sirait dan Tobing—yang dalam tradisi Batak sering disebut sebagai boru ni raja, perempuan terhormat dari garis keturunan keluarga besar adat.
Prof. Ningrum Sirait merupakan pakar hukum internasional yang kerap terlibat dalam berbagai diskusi akademik dan kebijakan global, sementara Dr. Murniati Tobing dikenal sebagai akademisi di bidang ekonomi pembangunan yang menaruh perhatian pada pengembangan ekonomi daerah dan potensi budaya lokal.
Dalam berbagai pertemuan santai, keduanya sering berbagi cerita tentang kekayaan kuliner daerah, khususnya hidangan berbahan dasar daging babi yang memiliki tempat istimewa dalam sejumlah tradisi kuliner Nusantara. Prof. Ningrum diketahui menyukai Babi Panggang Karo (BPK) yang gurih dengan sambal khasnya, sedangkan Dr. Murniati Tobing lebih menggemari Saksang, masakan Batak berbumbu kuat dengan rempah tradisional.
Dari obrolan ringan tersebut muncul sebuah gagasan menarik: penyelenggaraan Festival Kuliner Babi Nusantara (FKBN) sebagai ajang memperkenalkan keragaman olahan daging babi dari berbagai daerah di Indonesia. Festival ini diharapkan menjadi ruang promosi budaya kuliner sekaligus mendorong potensi wisata gastronomi.
Dalam konsep yang diusulkan, FKBN dirancang diselenggarakan minimal dua tahun sekali dengan sistem tuan rumah bergiliran antar provinsi. Dengan demikian, setiap daerah berkesempatan menampilkan kekhasan kuliner lokalnya serta menggerakkan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
Penggagas juga mendorong agar kepanitiaan segera dibentuk, sehingga festival dapat dipersiapkan secara profesional dan berpeluang masuk dalam perencanaan anggaran daerah (P-APBD) di wilayah yang menjadi tuan rumah.
Festival ini diprediksi akan sangat menarik karena menghadirkan berbagai cita rasa olahan daging babi khas Nusantara, antara lain Saksang dan Babi Panggang Karo dari Sumatera Utara, Babi Guling dari Bali, Se’i dari Nusa Tenggara Timur, Babi Rica-rica dari Manado, hingga inovasi kuliner seperti Rawon Babi dari Solo.
Jika terealisasi, Festival Kuliner Babi Nusantara tidak hanya menjadi ajang wisata kuliner, tetapi juga sarana mempererat hubungan budaya, memperkuat identitas kuliner daerah, serta membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM kuliner di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan semangat kebersamaan dan kekayaan rasa dari berbagai daerah, festival ini diharapkan mampu menghadirkan wajah lain dari keragaman kuliner Nusantara yang unik dan penuh cita rasa.
(TUMPALM)
