- BATAM-MediaSurya. id – Suasana tegang menyelimuti kawasan BBS, Punggur, Kecamatan Nongsa, pada Kamis (12/2/2026). Ratusan aparat gabungan bersiaga mengawal alat berat yang merobohkan bangunan rumah liar (Ruli) di atas lahan yang diklaim oleh PT Tria Talang Emas.
Isak tangis dan teriakan histeris kaum ibu mewarnai proses eksekusi. Mereka berupaya menghalau ekskavator sambil memohon keadilan. “Manusiakanlah kami! Kami di sini bukan mencari kekayaan, tapi menyambung hidup,” teriak salah satu warga di tengah deru mesin alat berat.
Konflik ini memuncak setelah upaya mediasi yang digelar sebelumnya di kawasan Sunbreak, Punggur, menemui jalan buntu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh:Yahya, perwakilan PT Tria Talang Emas.Imam Tohari, Kasatpol PP Kota Batam.Kompol Eriman, Kapolsek Nongsa.Perwakilan Polresta Barelang.
Titik terang gagal dicapai karena pihak perusahaan hanya menawarkan kompensasi sebesar Rp250.000 per nomor data. Warga, yang diwakili oleh P. Marbun, dengan tegas menolak nilai tersebut karena dianggap jauh dari kata layak. Warga berharap setidaknya ada “tali asih” sebesar Rp5 juta per KK untuk biaya pindah dan memulai hidup baru.
Selain nominal, warga juga menyoroti masalah pendataan yang dianggap tidak transparan. Menurut warga, data 75 KK yang dipegang Satpol PP tidak akurat karena pendataan dilakukan saat banyak warga tidak berada di tempat.
Di sisi lain, Kasatpol PP Kota Batam, Imam Tohari, menegaskan bahwa tindakan ini adalah bagian dari penegakan aturan pemanfaatan lahan dan penataan kawasan. Ia menyatakan seluruh prosedur administrasi telah dipenuhi.
”Sekitar 400 personel gabungan kami turunkan. Semua tahapan sudah dilalui, mulai dari SP1, SP2, SP3, hingga surat perintah eksekusi. Kegiatan ini sesuai dengan SOP,” ujar Imam di lokasi kejadian.
Meski situasi relatif terkendali di bawah pengamanan ketat aparat kepolisian, suasana duka mendalam tak terbendung saat warga menyaksikan tempat tinggal mereka rata dengan tanah. Pemerintah Kota Batam berdalih langkah ini merupakan bagian dari penataan kota, namun bagi warga Punggur, ini adalah hilangnya ruang hidup mereka tanpa solusi yang adil.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih bertahan di sekitar puing-puing bangunan sambil menunggu kejelasan proses selanjutnya.
(TUMPAL.M)
